Ditulis oleh Edhy Aruman edisi JAM 6 TENG – Waras
LENSAKINI – Pernahkah kita merasa hampir semua orang di sekitar kita bermasalah? Ada yang dianggap lamban, terlalu banyak bicara, keras kepala, tidak bisa diajak bekerja sama, atau bahkan tidak kompeten.
Perasaan seperti itu sebenarnya manusiawi. Namun, ketika terlalu banyak orang terlihat salah di mata kita, mungkin ada sesuatu yang perlu diperiksa: cara kita melihat mereka.
Kisah Thomas Erikson dalam Surrounded by Idiots memperlihatkan sebuah ironi. Seorang pengusaha bernama Sture merasa dikelilingi orang-orang bodoh. Ia marah ketika karyawannya melakukan kesalahan dan sulit menerima kabar buruk. Akibatnya, orang-orang justru takut berkata jujur kepadanya.
Semakin ia menuntut keterbukaan, semakin sedikit kebenaran yang sampai kepadanya.
Pertanyaan sederhana kemudian menjadi tamparan: “Kalau begitu, siapa yang merekrut semua orang bodoh itu?”
Kisah tersebut mengingatkan kita bahwa manusia sering menjadikan dirinya sendiri sebagai ukuran untuk menilai orang lain. Yang cepat menganggap orang hati-hati sebagai lamban. Yang tegas menganggap orang diplomatis sebagai lemah. Yang banyak bicara dianggap berisik, sementara yang pendiam dicap tidak peduli.
Padahal, berbeda bukan berarti salah.
Dalam kehidupan sehari-hari, konflik sering kali bukan lahir karena seseorang berniat buruk, melainkan karena kita gagal memahami cara orang lain berpikir dan berkomunikasi.
Kita ingin orang lain memahami kita, tetapi lupa bahwa mereka tidak harus berpikir dengan cara yang sama.
Karena itu, kedewasaan bukan hanya kemampuan mengetahui kesalahan orang lain, tetapi juga keberanian bertanya kepada diri sendiri: jangan-jangan cara saya melihat orang lain yang perlu diperbaiki?
Sebab ketika terlalu banyak orang terasa bermasalah, mungkin bukan seluruh dunia yang berubah.
Mungkin kita hanya terlalu lama menggunakan diri sendiri sebagai ukuran untuk menilai semua orang.
Dan sebelum kembali mengatakan bahwa dunia dipenuhi orang-orang yang sulit, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bercermin.















