Di sisi lain, struktur pemilih mengalami perubahan besar. DPT Pilkada 2024 mencapai 161.786 pemilih. Generasi Milenial berjumlah 34,91% dan Gen Z 27,90%. Jika digabungkan, kedua generasi tersebut mencapai sekitar 62,81% dari DPT.
Artinya, sebagian besar pemilih berada pada generasi yang tumbuh bersama internet dan media sosial. Perubahan ini penting dicermati karena lingkungan informasi politik mereka jauh
berbeda dari generasi sebelumnya.
Dalam masyarakat lokal, loyalitas politik tentu belum hilang. Keluarga, tokoh masyarakat, hubungan kekerabatan, komunitas, organisasi, dan kedekatan dengan figur tertentu masih dapat memengaruhi pilihan.
Namun, cara pemilih memperoleh informasi telah berubah. Dahulu calon dikenal melalui pertemuan masyarakat, kampanye, baliho, keluarga, atau tokoh masyarakat. Kini calon dapat dikenal melalui video pendek, media sosial, siaran langsung, pemberitaan digital, dan berbagai platform informasi.
Dengan demikian, yang berubah bukan selalu nilai sosial pemilih, tetapi lingkungan informasi yang membentuk
pilihan politiknya. Pemilih tradisional tidak hilang; tapi sedang mengalami digitalisasi.
Dari Berbasis Loyalitas menjadi Berbasis Evaluasi Perubahan lingkungan informasi tersebut membuka ruang bagi pergeseran dari loyalitas menuju evaluasi.
Pemilih tidak hanya bertanya siapa yang dikenal atau siapa yang didukung lingkungan sosialnya, tetapi semakin memiliki kesempatan untuk melihat rekam jejak, program, pernyataan, dan kinerja kandidat.
Karena itu, perubahan yang lebih tepat bukan dari pemilih loyal menjadi pemilih tidak loyal, melainkan dari loyalitas otomatis menuju loyalitas yang semakin evaluatif. Seorang pemilih masih dapat loyal kepada tokoh atau partai tertentu, tetapi loyalitas itu semakin mungkin diuji oleh pengalaman dan informasi yang tersedia.















