Pemimpin Hebat Tahu Kapan Harus Mundur Selangkah

  • Bagikan
Pemimpin Hebat Tahu Kapan Harus Mundur Selangkah

Ditulis oleh Edhy Aruman edisi JAM 6 TENG

Tidak semua kepemimpinan harus tampil di depan. Ada saatnya seorang pemimpin justru menunjukkan kekuatannya dengan mundur selangkah dan memberi ruang kepada orang lain untuk tumbuh.

Bobby Matinpour memahami hal itu ketika memimpin tim yang sedang kehilangan kepercayaan diri. Ia tidak memilih memperketat kontrol atau menjadi orang yang selalu memiliki jawaban. Ia mendengarkan, membangun kepercayaan, lalu perlahan menyerahkan panggung kepada anggota timnya.

Dalam rapat, ketika pertanyaan sulit datang, Bobby tidak selalu menjawab meski ia tahu jawabannya. Ia memberi kesempatan kepada orang yang lebih memahami persoalan. Bahkan dalam konferensi penjualan yang dihadiri ratusan orang, presentasi utama justru diberikan kepada anggota tim paling junior.

Bobby tidak benar-benar menghilang. Ia tetap berdiri di belakang, siap membantu ketika diperlukan. Di situlah bedanya memberi kepercayaan dengan lepas tangan.

Pemimpin yang hebat tidak sibuk memastikan dirinya selalu terlihat paling penting. Ia justru memastikan orang-orang di sekitarnya menjadi semakin mampu, percaya diri, dan berani mengambil tanggung jawab.

Sebab pada akhirnya, ukuran kepemimpinan bukan seberapa banyak orang bergantung kepada kita. Ukurannya adalah seberapa banyak orang menjadi lebih kuat setelah pernah kita pimpin.

Pemimpin hebat tahu kapan harus maju. Tetapi pemimpin yang lebih hebat tahu kapan harus mundur selangkah, agar orang lain mendapat kesempatan untuk melangkah lebih jauh.

  • Bagikan