Keane dan Razer menekankan bahwa masyarakat modern merasa wajib memiliki pendapat tentang segala hal.
Dahulu seseorang masih nyaman berkata, “Saya tidak tahu.” Kini, kalimat itu terdengar seperti pengakuan dosa intelektual.
Padahal banyak pemikir besar Socrates misalnya memulai perjalanan intelektualnya dari pengakuan sederhana bahwa ia tidak tahu. Kesadaran itu mendorongnya untuk terus bertanya dan belajar.
Paradoxnya, kita hidup di zaman informasi yang melimpah, tapi justru semakin mudah salah paham dan cepat menilai. Dahulu, menyebarkan kekeliruan butuh berbulan-bulan perjalanan.
Sekarang cukup satu jempol dan koneksi internet yang stabil. Jadi, kemampuan paling langka hari ini bukan sekadar cerdas atau fasih bicara, melainkan keberanian berkata, “Saya belum tahu.” Kalimat sederhana itu memang tidak viral, tapi sering kali itulah awal dari pemikiran yang benar.
Saya sendiri tidak luput dari penyakit sok tahu ini. Dulu, rasanya gengsi jika tidak ikut berkomentar tentang politik, ekonomi, atau isu populer.
Semakin banyak membaca dan belajar, saya sadar bahwa banyak hal yang dulu tampak sederhana ternyata kompleks, dan banyak hal yang dulu saya yakin ternyata lebih rumit daripada yang saya kira.
Mungkin kedewasaan intelektual bukan soal banyak jawaban, tapi soal semakin banyak pertanyaan yang kita simpan dengan rendah hati. Dan semakin sering seseorang berkata, “Saya tahu segalanya,” semakin besar kemungkinan ia justru menunjukkan sebaliknya.














