Ketika Relevansi Menjadi Tantangan Utama Bank Syariah
Temuan ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku. Literasi keuangan syariah ternyata belum otomatis menghasilkan keputusan untuk menggunakan produk bank syariah.
Dalam praktiknya, perilaku konsumen tidak hanya ditentukan oleh pemahaman, tetapi juga oleh kebiasaan, kemudahan, kecepatan, dan pengalaman penggunaan.
Aplikasi yang paling sering digunakan akan lebih mudah menjadi pilihan utama. Mahasiswa juga tidak selalu membandingkan fitur bank syariah dan dompet digital satu per satu.
Mereka cenderung memilih layanan yang sudah akrab, mudah diakses, dan mampu memenuhi kebutuhan secara cepat.
Karena itu, tantangan bank syariah saat ini bukan sekedar menghadirkan teknologi.
Berbagai bank syariah sebenarnya telah menyediakan mobile banking, pembukaan rekening daring, pembayaran QRIS, transfer, pembayaran tagihan, hingga fasilitas pengisian saldo dompet digital.
Masalahnya, kelengkapan fitur belum tentu membuat suatu layanan menjadi bagian dari rutinitas pengguna.
Digitalisasi tidak cukup hanya diukur dari banyaknya fitur dalam aplikasi. Keberhasilannya juga harus dilihat dari seberapa sering layanan itu digunakan dan seberapa besar manfaatnya dirasakan.
Bank syariah perlu membangun relevansi, bukan sekadar melakukan digitalisasi. Relevansi itu dapat dibangun dengan menghubungkan layanan bank syariah dengan aktivitas yang dekat dengan mahasiswa.
Misalnya, pembayaran kegiatan akademik, pengelolaan beasiswa, transaksi organisasi mahasiswa, tabungan pendidikan, investasi syariah, hingga pembiayaan usaha bagi mahasiswa yang mulai berwirausaha.
Literasi keuangan syariah juga perlu diarahkan pada perubahan perilaku. Mahasiswa tidak cukup hanya diajarkan mengenai akad, larangan riba, atau perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional.
Mereka perlu memperoleh pengalaman langsung menggunakan layanan bank syariah.
Pembukaan rekening secara mudah, penggunaan QRIS, praktik menabung, simulasi investasi, dan pengelolaan keuangan dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran. Pengetahuan yang disertai pengalaman akan lebih mudah membentuk kebiasaan.
Bank syariah juga perlu menjelaskan nilai tambah yang tidak dimiliki dompet digital. Dompet digital pada dasarnya berfungsi sebagai alat pembayaran.
Sementara itu, bank syariah memiliki fungsi yang lebih luas, mulai dari menghimpun dana, menyalurkan pembiayaan, menyediakan layanan investasi, hingga mendukung kegiatan ekonomi produktif.
Melalui akad seperti mudharabah, musyarakah, murabahah, dan ijarah, bank syariah tidak hanya memfasilitasi transaksi, tetapi juga menjalankan fungsi intermediasi.
Dana masyarakat dapat dikelola dan disalurkan untuk mendukung UMKM, industri halal, serta kegiatan ekonomi yang sesuai dengan prinsip syariah.
Bank syariah juga memiliki potensi untuk mengintegrasikan layanan komersial dan sosial melalui zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Inilah nilai strategis yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh dompet digital.
Namun, nilai tersebut harus dikomunikasikan secara sederhana dan nyata. Generasi muda tidak cukup hanya diberi penjelasan bahwa bank syariah bebas bunga.
Mereka perlu melihat manfaat langsung, kemudahan layanan, keamanan dana, peluang investasi, serta kontribusi bank syariah terhadap pembangunan ekonomi masyarakat.














