Membaca Nilai Islam dalam Tradisi STM Tapanuli Selatan

  • Bagikan
Nilai Islam dalam Tradisi STM Tapanuli Selatan

Di samping bantuan materi, kehadiran masyarakat juga memberikan kekuatan moral dan psikologis bagi keluarga yang sedang berduka.

Dari perspektif sosial, STM dapat dipandang sebagai bentuk modal sosial masyarakat. Di dalamnya terdapat kepercayaan, hubungan timbal balik, kepedulian, dan jaringan sosial.

Seseorang membantu orang lain bukan semata-mata karena mengharapkan balasan, tetapi karena adanya kesadaran bahwa manusia pada dasarnya saling membutuhkan.

Ketika suatu saat dirinya mengalami musibah, masyarakat pun diharapkan akan hadir memberikan dukungan.

Nilai STM semakin menarik ketika dilihat dari perspektif Islam. Islam mengajarkan prinsip ta’awun, yaitu saling membantu dalam kebaikan.

Islam juga menekankan pentingnya ukhuwah, silaturahmi, kasih sayang, dan kepedulian terhadap orang yang sedang mengalami kesulitan. Oleh karena itu, nilai-nilai yang terdapat dalam STM memiliki kesesuaian yang kuat dengan ajaran Islam.

Bagi masyarakat Muslim, membantu keluarga yang mengalami musibah tidak hanya memiliki nilai sosial, tetapi juga dapat menjadi bagian dari amal kebajikan.

Ketika seseorang memberikan bantuan dengan ikhlas, ia sedang mewujudkan nilai agama dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, adat dan agama tidak harus diposisikan sebagai dua hal yang bertentangan. Adat yang mengandung nilai kebaikan dan tidak bertentangan dengan prinsip Islam justru dapat menjadi sarana untuk mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat.

Perspektif Saya sebagai Orang dari Luar Daerah

Sebagai seseorang yang berasal dari Sumatera Barat, saya memandang pengalaman berinteraksi dengan budaya STM sebagai sebuah pembelajaran sosial yang sangat berharga. Pada awalnya, STM saya pahami sebagai salah satu bentuk adat dan kebiasaan masyarakat setempat.

Namun, setelah melihat dan memahami praktiknya, saya menemukan nilai yang lebih mendalam di dalamnya.
Saya dapat menerima dan menghargai budaya STM karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sejalan dengan nilai yang saya yakini dalam Islam.

Semangat untuk membantu orang yang sedang mengalami kesulitan, meringankan beban keluarga yang tertimpa musibah, menjaga silaturahmi, serta membangun kepedulian terhadap sesama merupakan nilai-nilai yang universal dan sekaligus sangat dekat dengan ajaran Islam.

Bagi saya, berasal dari luar Tapanuli Selatan bukan alasan untuk menolak budaya lokal. Sebaliknya, keberadaan di tengah masyarakat dengan budaya yang berbeda memberikan kesempatan untuk belajar dan menemukan nilai-nilai kebaikan yang dapat diterima bersama.

Budaya yang baik tidak semestinya hanya dilihat dari asal-usulnya, tetapi juga dari nilai, manfaat, dan kemaslahatan yang terkandung di dalamnya.

Dalam hal ini, STM menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi ruang pertemuan antara adat, agama, dan nilai kemanusiaan.

Saya melihat STM bukan hanya sebagai tradisi masyarakat Tapanuli Selatan, tetapi sebagai praktik sosial yang mengajarkan bahwa seseorang yang sedang mengalami musibah tidak boleh merasa sendirian. Ada keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat yang bersedia hadir untuk membantu.

STM di Tengah Perubahan Zaman

Perkembangan zaman tentu membawa perubahan terhadap cara masyarakat menjalankan tradisi. Komunikasi yang dahulu dilakukan secara langsung kini dapat dilakukan melalui telepon, WhatsApp, atau media sosial. Pengumpulan bantuan juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi digital.

Perubahan tersebut tidak harus dimaknai sebagai hilangnya budaya. Yang terpenting adalah mempertahankan substansi dan nilai yang berada di balik praktik tersebut.

Cara mengumpulkan bantuan boleh berubah, tetapi semangat gotong royong, kepedulian, persaudaraan, keikhlasan, dan saling membantu harus tetap dipertahankan.

Dalam konteks ini, STM dapat dipandang sebagai living culture, yaitu budaya yang terus hidup karena masih dipraktikkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

  • Bagikan