TAPANULI SELATAN (LENSALINI)-Forum Konservasi Orangutan Sumatera (FOKUS) menilai, Stasiun Riset Batang Toru yang dikembangkan PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, layak menjadi pilot project konservasi orangutan Tapanuli dan keanekaragaman hayati bagi perusahaan lain di Sumatera Utara.
Penilaian tersebut disampaikan Koordinator Kelompok Pemerhati FOKUS, Khairul Azmi, setelah melihat langsung kegiatan penelitian dan konservasi di Stasiun Riset Batang Toru serta Area Preservasi Martabe.
FOKUS menilai keberadaan fasilitas tersebut menunjukkan adanya upaya perusahaan untuk mendukung perlindungan satwa liar dan habitat di sekitar area operasionalnya.
“Stasiun riset ini sebenarnya bisa menjadi pilot project. Pilot project bagi perusahaan-perusahaan lain yang ada di Sumatera Utara,” ujarnya.
Ia juga mengatakan kunjungan lapangan penting untuk memastikan informasi mengenai aktivitas dan komitmen perusahaan diperoleh secara langsung dan utuh.
”Kadang-kadang untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan, kita harus lihat langsung ke lapangan agar kita tidak salah menyampaikan informasi ke depan,” ujarnya.
Ketua FOKUS, Julius Paolo Siregar, mendorong agar Stasiun Riset Batang Toru dibuka untuk kunjungan secara berkala.
Menurutnya, semakin banyak pihak yang melihat langsung kegiatan penelitian dan konservasi, semakin terbuka pula kesempatan untuk membangun pemahaman mengenai upaya perlindungan keanekaragaman hayati.
”Kalau bisa tiap bulan mungkin ada grup-grup lain yang datang kemari. Baik itu diinisiasi oleh perusahaan ataupun mereka datang sendiri. Welcome saja untuk yang baik,” ujarnya.
Habitat Tiga Satwa Ikonik
Ahli konservasi primata sekaligus anggota Biodiversity Advisory Panel (BAP) PTAR, Sri Suci Utami Atmoko, Ph.D., menjelaskan Stasiun Riset Batang Toru berada di Area Penggunaan Lain (APL) pada ketinggian sekitar 175–500 meter di atas permukaan laut.
Menurut Suci, lokasi tersebut penting bagi penelitian karena merupakan habitat dataran rendah yang disukai orangutan Tapanuli, tetapi masih relatif minim diteliti.
”Ini akan menjadi informasi yang sangat penting untuk ilmu pengetahuan,” ucapnya.
Hasil pemantauan menggunakan kamera jebak menunjukkan keberadaan tiga satwa ikonik di Area Preservasi Martabe, yakni orangutan Tapanuli, harimau Sumatera, dan tapir.
”Yang ada orangutan Tapanuli sekaligus tiga flagship species itu cuma ada di sini, di Batang Toru,” kata Suci.
Keberadaan tiga satwa tersebut memperkuat nilai penting kawasan preservasi sebagai habitat satwa sekaligus lokasi penelitian untuk mendukung pemahaman mengenai keanekaragaman hayati di ekosistem Batang Toru.
Sementara itu, Manager Biodiversity & Environmental Strategic Development PT Agincourt Resources, Syaiful Anwar, mengatakan Stasiun Riset Batang Toru tidak diarahkan hanya sebagai tempat penelitian, tetapi juga sebagai ruang untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat berkontribusi terhadap ilmu konservasi.
Sejumlah hasil penelitian PTAR, kata Syaiful, telah dipresentasikan dalam konferensi nasional maupun internasional.
“Ke depan, kami ingin hasil-hasil riset dari stasiun ini semakin banyak berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan. Kami juga membuka ruang bagi mahasiswa yang memiliki kebutuhan riset sesuai dengan prioritas penelitian di stasiun ini,” pungkasnya.















