Tak Harus Sama untuk Bisa Bersama, Merawat Toleransi di Tengah Keberagaman

  • Bagikan
Belajar Toleransi dari Satu Kamar dan Kampung di Tapanuli Selatan

Selama tinggal bersama, kami saling menghargai waktu dan aktivitas ibadah masing-masing. Kami menjaga kenyamanan satu sama lain dan tidak mengganggu ketika salah satu sedang menjalankan aktivitas keagamaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kami dapat berbincang, berdiskusi, bercanda, makan bersama, dan saling membantu tanpa menjadikan perbedaan agama sebagai penghalang.

Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa toleransi tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Toleransi dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti kemampuan mendengarkan, menghargai, menjaga ucapan, memberikan ruang kepada orang lain, dan tidak memaksakan keyakinan kepada sesama.

Hal yang paling berkesan adalah persahabatan tersebut tidak berakhir setelah masa Prajabatan selesai. Sampai sekarang kami masih berteman.

Hubungan pertemanan yang tetap terjalin tersebut menjadi bukti bahwa perbedaan agama tidak harus menjadi batas dalam membangun hubungan sosial yang baik.

Pengalaman ini juga mengajarkan bahwa seseorang tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan agama yang dianutnya. Sebagai manusia, kita memiliki banyak kebutuhan dan kepentingan yang sama, seperti kebutuhan akan persahabatan, penghargaan, pertolongan, keamanan, dan kehidupan yang damai.

Toleransi dalam Kehidupan Masyarakat Tapanuli Selatan

Pengalaman mengenai toleransi juga saya temukan dalam kehidupan masyarakat di kampung suami saya di Tapanuli Selatan. Di kampung tersebut terdapat masyarakat yang beragama Kristen. Meskipun masyarakat memiliki perbedaan agama, mereka dapat hidup berdampingan secara damai.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat tetap dapat bertetangga, berinteraksi, saling membantu, dan menjaga hubungan baik. Perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk membangun kepedulian sosial. Salah satu bentuk toleransi yang saya lihat secara nyata adalah ketika ada warga yang meninggal dunia.

Ketika ada masyarakat yang meninggal, warga saling melayat sebagai bentuk kepedulian dan empati kepada keluarga yang sedang mengalami musibah.

Mereka hadir untuk memberikan dukungan moral dan menunjukkan bahwa keluarga yang berduka tidak menghadapi kesedihan seorang diri. Dalam keadaan seperti itu, perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk menunjukkan rasa kemanusiaan.

Begitu pula ketika ada warga yang melaksanakan pesta atau kegiatan keluarga. Masyarakat saling menghadiri sebagai wujud kebersamaan dan penghormatan kepada sesama warga.

Kehadiran tersebut menunjukkan bahwa hubungan sosial tidak hanya dibangun ketika seseorang mengalami kesulitan, tetapi juga ketika seseorang sedang merasakan kebahagiaan.

Saling melayat ketika ada kematian dan saling menghadiri ketika ada pesta merupakan bentuk toleransi yang sangat nyata dalam kehidupan masyarakat.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa toleransi bukan hanya tentang menghormati orang lain dalam menjalankan ibadah, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir dalam suka dan duka sesama manusia.

Kebersamaan dalam suka dan duka menciptakan ikatan sosial yang kuat. Ketika ada warga mengalami musibah, masyarakat hadir memberikan dukungan.

Ketika ada warga memperoleh kebahagiaan, masyarakat turut hadir berbagi kegembiraan. Sikap tersebut membuat setiap warga merasa menjadi bagian dari komunitas yang saling peduli.

Menurut saya, kehidupan masyarakat Tapanuli Selatan memiliki modal sosial yang sangat kuat dalam membangun kerukunan. Nilai kekeluargaan, gotong royong, musyawarah, saling menghormati, dan kepedulian terhadap sesama merupakan kekuatan yang dapat mempererat hubungan masyarakat yang berbeda agama.

Dalam kehidupan kampung, seseorang tidak hanya hidup sebagai pemeluk agama tertentu, tetapi juga sebagai tetangga, saudara, dan bagian dari masyarakat. Kesadaran tersebut membuat perbedaan agama tidak menjadi tembok pemisah dalam kehidupan sosial.

  • Bagikan