Tak Harus Sama untuk Bisa Bersama, Merawat Toleransi di Tengah Keberagaman

  • Bagikan
Belajar Toleransi dari Satu Kamar dan Kampung di Tapanuli Selatan

Toleransi dalam Perspektif Agama Islam

Sebagai seorang Muslim, saya memahami bahwa toleransi harus ditempatkan secara tepat. Menghormati agama lain tidak berarti mencampuradukkan akidah atau mengikuti ritual keagamaan yang bertentangan dengan keyakinan sendiri.

Toleransi berarti memberikan penghormatan kepada orang lain untuk menjalankan keyakinannya, sementara kita tetap menjalankan agama kita dengan baik.

Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada sesama. Prinsip tersebut dapat menjadi dasar dalam membangun hubungan sosial dengan masyarakat yang berbeda agama. QS. Al-Kafirun ayat 6 juga memberikan prinsip yang jelas: لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ “Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

Ayat tersebut mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan harus disikapi dengan bijaksana. Kita tidak harus menyeragamkan keyakinan agar dapat hidup bersama. Yang diperlukan adalah penghormatan, keadilan, kepedulian, dan sikap tidak memaksakan keyakinan kepada orang lain.

Karena itu, toleransi tidak berarti seseorang harus kehilangan identitas agamanya. Justru seseorang yang memiliki keyakinan yang kuat dapat menunjukkan sikap toleran melalui akhlak dan perilakunya kepada orang lain.

Refleksi dan Komitmen

Berbagai pengalaman tersebut membuat saya semakin memahami bahwa toleransi bukan sekadar teori, tetapi proses pembelajaran yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggal satu kamar dengan teman yang berbeda agama selama Prajabatan mengajarkan saya tentang pentingnya saling menghargai dalam kehidupan yang sangat dekat. Persahabatan yang masih terjalin sampai sekarang menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi hubungan baik.

Sementara itu, kehidupan di kampung suami saya mengajarkan bahwa toleransi dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial. Ketika ada warga meninggal, masyarakat hadir untuk melayat. Ketika ada pesta, masyarakat hadir untuk berbagi kebahagiaan. Perbedaan agama tidak menghilangkan rasa peduli sebagai sesama manusia dan sesama warga.

Dari pengalaman tersebut saya memahami bahwa kerukunan tidak hanya terlihat ketika masyarakat berada dalam keadaan baik, tetapi justru terlihat ketika masyarakat mampu hadir dalam suka dan duka tanpa membedakan agama.

Sebagai seorang pendidik, saya juga merasa memiliki tanggung jawab untuk menerapkan dan menularkan nilai toleransi kepada mahasiswa. Saya ingin memberikan pemahaman bahwa keberagaman bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Perbedaan dapat menjadi kekuatan apabila disikapi dengan bijaksana. Mahasiswa perlu memahami bahwa menjadi Muslim yang baik tidak berarti harus memusuhi orang yang berbeda agama. Sebaliknya, keberagamaan yang baik dapat diwujudkan melalui akhlak, penghormatan, keadilan, kepedulian, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Pengalaman saya mengajarkan bahwa toleransi dapat tumbuh dari perjumpaan sederhana. Toleransi dapat dimulai dari sebuah persahabatan, dari tinggal satu kamar selama masa Prajabatan, dari hubungan bertetangga, dari saling melayat ketika ada warga yang meninggal, dan dari menghadiri pesta sebagai bentuk kebersamaan.

Saya belajar bahwa kita tidak harus sama untuk dapat hidup bersama. Kita dapat berbeda agama tetapi tetap bersahabat. Kita dapat berbeda keyakinan tetapi tetap bertetangga dengan baik. Kita dapat berbeda dalam menjalankan ibadah tetapi tetap bekerja sama dalam urusan sosial dan kemanusiaan.

Inilah makna penting moderasi beragama: teguh dalam keyakinan, tetapi tidak merendahkan orang lain; menghormati agama sendiri tanpa menghina agama orang lain; serta aktif menciptakan kehidupan yang aman, damai, dan nyaman bagi semua.

Saya percaya bahwa kerukunan tidak lahir karena semua orang memiliki keyakinan yang sama. Kerukunan lahir karena manusia memiliki kesediaan untuk saling memahami, saling menghormati, saling membantu, dan saling menjaga.

Oleh karena itu, saya akan terus berusaha menerapkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam pertemanan, keluarga, lingkungan akademik, maupun masyarakat.

Saya juga akan berusaha menularkan nilai tersebut melalui tulisan, pembelajaran, dan keteladanan. Pada akhirnya, moderasi beragama bukan hanya tentang apa yang kita katakan tentang toleransi, tetapi tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain yang berbeda dari kita.

  • Bagikan