Ketika Hidup Tidak Berjalan sesuai Skenario

  • Bagikan
Better not bitter

Gagasan serupa dijelaskan Dan Sullivan dan Benjamin Hardy melalui konsep GAP dan GAIN. GAP terjadi ketika kita terus membandingkan hidup nyata dengan hidup ideal yang kita bayangkan: karier seharusnya sudah lebih tinggi, rumah seharusnya sudah lunas, hidup seharusnya sudah lebih tenang. Akibatnya, kita merasa selalu kurang.

Sebaliknya, GAIN mengajak kita menoleh ke belakang dan melihat sejauh mana kita telah bertumbuh. Dulu kita takut berbicara di depan umum, sekarang berani memimpin rapat. Dulu usaha baru memiliki dua pelanggan, sekarang sudah dua puluh. Mungkin belum sempurna, tetapi jelas ada perkembangan.

Keluarga Norton tampaknya memilih hidup dalam kerangka GAIN. Tragedi tidak membuat mereka berhenti hidup, melainkan mengubah cara mereka memaknai hidup. Setelah berbagai kehilangan itu, mereka semakin sengaja menyediakan waktu untuk hidup bersama. Mereka membangun pola hidup dan pekerjaan yang memberi ruang bagi keluarga, kebebasan, dan pengalaman hidup.

Bahkan Gavin tetap hadir dalam cara Richie memandang waktu. Ia membuat 76-Day Challenge, terinspirasi dari 76 hari kehidupan putranya, untuk mendorong orang berhenti menunda hal-hal penting dalam hidup.

Pesannya sederhana, tetapi kuat: hidup terlalu berharga untuk terus ditunda.

Sering kali kita menunggu saat yang dianggap lebih ideal. Nanti setelah jabatan naik. Nanti setelah cicilan selesai. Nanti setelah anak-anak besar. Nanti setelah pekerjaan lebih stabil. Masalahnya, kata “nanti” tidak selalu benar-benar datang.

Kita tidak harus mengalami tragedi besar untuk menyadari bahwa waktu terbatas. Cukup berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sedang saya tunda? Menelepon orang tua, meminta maaf, memulai usaha, menulis, mengajak anak berjalan-jalan, atau sekadar pulang lebih cepat untuk makan malam bersama keluarga.

Barangkali, makna hidup justru dibangun dari hal-hal sederhana seperti itu.

  • Bagikan