Data menunjukkan sekitar 21,4 persen mahasiswa masih mengalami miskonsepsi dalam memahami fungsi masing-masing bagian dalam artikel ilmiah.
Kondisi ini berdampak pada kualitas tulisan yang kurang sistematis dan sulit dipertanggungjawabkan secara akademik. Namun demikian, setelah mengikuti workshop, terjadi peningkatan kemampuan yang cukup signifikan.

Mahasiswa mulai mampu mengidentifikasi kesalahan dalam struktur penulisan, memahami alur logika ilmiah, serta mengenali berbagai kelemahan umum seperti klaim berlebihan, pengulangan data, dan penggunaan referensi yang tidak relevan.

Perubahan tidak hanya terlihat dari aspek teknis, tetapi juga dari pola pikir mahasiswa. Menulis ilmiah yang sebelumnya dianggap sekedar tugas akademik, kini mulai dipahami sebagai proses berpikir yang kritis, sistematis, dan berbasis data.
Pendekatan workshop yang mengombinasikan teori, praktik, serta analisis kasus dinilai efektif dalam meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap IMRAD.
Metode ini memungkinkan peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung dalam penulisan.
Ke depan, kegiatan serupa dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui program pendampingan seperti klinik penulisan ilmiah.
Upaya ini diharapkan dapat memperkuat budaya literasi akademik di lingkungan kampus serta mendorong mahasiswa untuk lebih aktif dalam publikasi ilmiah.



















