Koran, Media yang Tak Pernah Kehabisan Baterai di Tengah Banjir Notifikasi

  • Bagikan
koran di era digital

Koran tidak berbunyi “ting” saat seseorang sedang membaca. Tidak menawarkan video lain, tidak memunculkan rekomendasi tanpa diminta, dan tidak meminta perhatian pembacanya berpindah ke hal lain.

Justru karena diam, koran memberi ruang untuk berpikir.

Namun kekuatan terbesar koran mungkin bukan sekadar kertasnya, melainkan ritual yang mengikutinya. Koran dibuka, kopi diseruput, berita dibaca, lalu kepala terangkat untuk berdiskusi.

Tidak ada algoritma yang menentukan siapa yang harus berbicara. Biasanya, orang yang paling tidak tahan diam akan mengambil giliran.

Menariknya, berbeda pendapat di warung kopi tidak selalu berakhir dengan saling menjauh. Tidak ada tombol blokir atau keluar dari grup. Setelah berdebat, mereka tetap duduk bersama dan memesan kopi lagi.

Di tengah teknologi yang mampu mendekatkan orang dari berbagai belahan dunia, terkadang manusia justru semakin jauh dengan orang yang duduk di sebelahnya.

Karena itu, mempertahankan koran bukan semata soal melawan layar digital. Yang penting adalah menjaga kebiasaan membaca, berpikir, bertanya, dan berdialog.

Suatu hari nanti, koran mungkin benar-benar menjadi barang langka. Namun selama masih ada meja warung kopi, secangkir kopi, dan orang-orang yang ingin berbagi pandangan, semangat membaca dan berbincang akan tetap hidup.

Sebab ketika dunia sibuk melihat layar masing-masing, koran masih punya satu kelebihan sederhana: baterainya tidak pernah habis dan selalu punya alasan untuk membuat manusia mengangkat kepala.

  • Bagikan