Lelah Bukan Karena Bekerja, Tapi Karena Terus Membuktikan Diri

  • Bagikan
burnout karena membuktikan diri

Lingkungan kerja pun sering tanpa sadar memperkuatnya. Orang yang pulang paling malam dianggap berdedikasi, yang selalu berkata “iya” dianggap bisa diandalkan, dan yang tetap tersenyum saat lelah dianggap profesional.

Padahal seseorang bisa terlihat sukses sekaligus sedang kehabisan tenaga.

Suraj akhirnya belajar bahwa ia tidak membutuhkan cara baru untuk menjadi lebih produktif. Ia membutuhkan cara baru dalam memperlakukan dirinya sendiri. Ia belajar menerima bahwa revisi bukan penolakan, kesalahan bukan kegagalan, dan meminta bantuan bukan tanda kelemahan.

Mungkin kita pun sering berada di posisi yang sama. Kita terus berkata iya, mengambil lebih banyak tanggung jawab, dan berjanji akan beristirahat setelah semuanya selesai.

Masalahnya, pekerjaan hampir tidak pernah benar-benar selesai.

Maka pertanyaan pentingnya bukan hanya “Bagaimana saya bisa bekerja lebih baik?” tetapi “Apa yang sebenarnya saya takutkan jika saya berhenti sejenak?”

Takut dianggap tidak cukup baik? Takut mengecewakan orang lain? Atau takut bahwa tanpa pencapaian, kita tidak lagi merasa berharga?

Sebab terkadang kita bukan lelah karena terlalu banyak bekerja. Kita lelah karena terlalu lama berusaha membuktikan bahwa diri kita layak dihargai.

  • Bagikan