Bukan karena tidak memiliki impian, tetapi karena takut menghadapi proses panjang yang membutuhkan ketekunan.
Ironisnya, manusia sering lebih takut berubah daripada gagal. Kegagalan masih memberi ruang untuk menyalahkan keadaan, sementara keberhasilan menuntut tanggung jawab baru yang lebih besar.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan “Mengapa mimpi saya belum tercapai?” melainkan “Apakah saya sudah bertahan cukup lama untuk memberinya kesempatan?”
Sebab terkadang jarak antara kehidupan yang kita jalani dan kehidupan yang kita impikan bukanlah bakat atau keberuntungan. Jarak itu hanya dipisahkan oleh satu keputusan sederhana: tetap berjalan atau berhenti terlalu cepat.















