Selain fasilitas fisik, pendekatan pelayanan juga menjadi sorotan. Petugas diminta untuk lebih peka dalam membaca kondisi jemaah yang datang dengan tingkat kelelahan yang berbeda-beda setelah perjalanan panjang dari Indonesia.
“Petugas kami minta bekerja cepat dan peka. Ada jemaah yang kuat berjalan, ada yang perlu dituntun, ada yang harus segera dibantu kursi roda. Semua harus dilayani dengan pendekatan yang sabar dan penuh empati,” tambahnya.

Pendekatan ini menandai pergeseran layanan haji yang tidak hanya berfokus pada kelancaran teknis, tetapi juga pada aspek kemanusiaan.

Dengan jumlah jemaah yang terus bertambah, Daker Bandara melakukan evaluasi layanan secara harian untuk memastikan setiap proses berjalan optimal.
“Kedatangan jemaah masih terus berjalan. Karena itu, layanan di bandara akan terus kami evaluasi setiap hari. Prinsipnya, jemaah harus merasa aman, nyaman, terbantu, dan merasakan negara benar-benar hadir dalam memenuhi kebutuhan mereka,” ujar Abdul.
Seiring meningkatnya jumlah kedatangan, kualitas layanan di Tanah Suci menjadi tantangan tersendiri. Namun pemerintah berharap seluruh jemaah dapat menjalani ibadah dengan aman, nyaman, dan khusyuk sejak langkah pertama di Arab Saudi.



















