Ujian kepemimpinan tentu bukan ketika semuanya baik-baik saja. Saat krisis finansial 2008 menghantam Barry-Wehmiller, perusahaan memilih shared sacrifice. Lebih baik banyak orang menanggung sedikit rasa sakit daripada sebagian orang kehilangan pekerjaan.
Di situlah nilai kepemimpinan diuji. Bukan pada kalimat yang terpampang di dinding, tetapi pada prinsip yang tetap dipertahankan ketika mempertahankannya mulai terasa mahal.
Cerita Claire Babineaux-Fontenot membawa kita pada pelajaran yang berbeda.
Karier Claire melesat hingga menjadi Chief Tax Officer Walmart. Namun di balik jabatan itu, ia mengalami impostor syndrome. Ia bahkan berusaha meniru pendahulunya, seorang pria kulit putih paruh baya dari Alabama.
Masalahnya, Claire tidak terlalu berbakat menjadi pria kulit putih paruh baya dari Alabama.
Sampai akhirnya ia berkata kepada atasannya, “Jika saya harus gagal, saya ingin gagal sebagai diri saya sendiri, bukan sebagai imitasi orang lain.”
Sejak itu, ia berhenti berpura-pura tahu semuanya. Ia merekrut orang-orang yang memiliki kemampuan yang tidak ia miliki. Dan ia menemukan satu hal penting: mengakui bahwa kita tidak tahu tidak selalu membuat kita kehilangan wibawa. Kadang justru membuat orang percaya.
Kisah Chapman dan Claire bertemu pada satu hal: manusia membutuhkan kepercayaan, didengar, dan diperlakukan sebagai manusia.
Sebab perasaan tidak pernah benar-benar tertinggal di kantor.
Cara kita memperlakukan seseorang pagi hari bisa ikut menentukan manusia seperti apa yang pulang ke rumah pada malam hari. Rasa dihargai bisa ikut pulang. Begitu pula rasa dipermalukan.
Claire kemudian menghadapi kanker. Lima operasi dan kemoterapi membuatnya melihat hidup dari sudut yang berbeda. Ia akhirnya meninggalkan Walmart dan menjadi CEO Feeding America.
Dua orang, dua jalan, satu pelajaran: pemimpin tidak hanya meninggalkan hasil. Ia meninggalkan bekas.
Jabatan suatu hari akan berakhir. Nama kita akan hilang dari struktur organisasi. Kursi yang pernah terasa penting akan diduduki orang lain.
Tetapi apa yang pernah kita tanam dalam diri orang lain bisa bertahan jauh lebih lama.
Mantan mengatakan kita pernah menjadi apa. Bekas menunjukkan apa yang tertinggal setelah kita pergi.
Maka ketika jabatan itu hilang, tinggal satu pertanyaan:
Apakah mereka berkata, “Untung dulu saya pernah dipimpin dia,” atau justru, “Untung akhirnya dia pindah juga”?














