Selain jumlah penerima manfaat, BGN juga akan menilai kualitas makanan, standar gizi, serta keamanan pangan yang dihasilkan SPPG. Artinya, dapur MBG tidak hanya dinilai dari banyaknya makanan yang diproduksi, tetapi juga dari mutu layanan yang diberikan.
“Lalu model dari insentif sendiri itu kita akan evaluasi bukan sekedar menghasilkan output berapa lalu diberikan itu. Bagaimana Anda mampu menghasilkan makanan yang berkualitas, standar makanannya, keamanannya pangannya terpenuhi. Jadi kita akan bikin beberapa composite untuk penilaian supaya tidak sekedar pokoknya aku mau masak sup ini,” jelas Agustina.
BGN juga akan memanfaatkan masa libur sekolah untuk menghentikan sementara penyaluran MBG dan melakukan audit terhadap seluruh dapur. Langkah ini diharapkan membuat pelaksanaan MBG lebih siap saat kegiatan sekolah kembali berjalan.
“Kami juga memanfaatkan momentum untuk libur sekolah ini, kami akan stop semua, kami akan audit semua dapur, sehingga nanti mudah-mudahan ketika nanti anak-anak sudah masuk sekolah kita sudah lebih baik kondisi di lapangan,” terang Agustina.














