Sudaryono Benahi BGN, Ratusan Pegawai Diberhentikan hingga Dapur Bermasalah Disetop

  • Bagikan
Sudaryono benahi BGN

Pembenahan BGN tidak berhenti pada persoalan kepegawaian. Sudaryono juga mengumumkan penghentian operasional secara permanen terhadap 833 dapur MBG yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

“Kami telah menemukan adanya 833 dapur yang kami suspend per hari ini,” ucap Sudaryono.

Ratusan dapur tersebut dihentikan karena dinilai tidak mampu memenuhi standar operasional yang ditetapkan BGN. Permasalahan yang ditemukan antara lain berkaitan dengan kebersihan, sanitasi, kualitas makanan, pengolahan limbah, serta risiko keracunan.

“Terkait higienis, sanitasi, keracunan, kemudian kualitas yang tidak baik, tidak memenuhi standar yang kita inginkan. Kemudian IPAL-nya (Instalasi Pengolahan Air Limbah),” jelasnya.

Dari total 833 dapur yang dihentikan, sebanyak 98 dapur berada di wilayah Sumatera. Kemudian, 311 dapur tersebar di Jawa dan Madura, sedangkan 424 dapur lainnya berada di wilayah Kalimantan hingga Papua.

Menurut Sudaryono, para pengelola dapur sebelumnya telah diberikan kesempatan dan tenggat waktu untuk melakukan perbaikan. Namun, karena peringatan tersebut tidak ditindaklanjuti, BGN akhirnya menjatuhkan sanksi penghentian permanen.

Konsekuensinya, pengelola dapur yang telah dihentikan tidak lagi mendapatkan kompensasi maupun pembayaran insentif dari pemerintah.

“Dapur yang di-suspend secara permanen ini itu bukan kayak yang lalu, misalnya dulu kan di-suspend tetapi tetap dibayar, kalau ini sudah di-suspend tutup, enggak dibayar. Ini betul-betul adalah suspend karena pelanggaran,” kata dia.

Sudaryono menegaskan, BGN tidak akan ragu menindak SPPG lain apabila di kemudian hari ditemukan melakukan pelanggaran serupa. Pengelola dapur diminta memahami bahwa program MBG bukan hanya berorientasi pada jumlah makanan yang dibagikan, tetapi harus memastikan kebutuhan gizi penerima manfaat terpenuhi.

“Sekali lagi ini namanya Makan Bergizi Gratis, bukan makan enak gratis, bukan makan banyak gratis. Mencukupkan gizinya lah yang menjadi tolok ukurnya. Kami ingin menunya tersaji baik, gizinya terpenuhi, dan perputaran ekonomi lokal juga jalan,” tegas Sudaryono.

  • Bagikan